Menu Bar 1

Saturday, 19 September 2026

Kebakaran Hutan dan Lahan di Kalimantan Tengah: Ketika Gambut, Kemarau, dan Aktivitas Manusia Bertemu


PALANGKA RAYA —
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius di Kalimantan Tengah. Hingga September 2026, kebakaran terjadi di sejumlah wilayah, sementara kondisi atmosfer yang kering meningkatkan kerentanan terhadap munculnya titik api baru. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bahkan menetapkan status tanggap darurat karhutla sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa persoalan ini masih membutuhkan kewaspadaan tinggi. Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, pada 18 September 2026 pukul 21.05 WIB terdeteksi 166 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah, meningkat dibandingkan 61 titik pada hari sebelumnya. Data tersebut berasal dari pengamatan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.

Namun, perlu dipahami bahwa hotspot tidak identik dengan jumlah kejadian kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali temperatur permukaan yang terdeteksi sensor satelit. Wilayah yang tertutup awan juga dapat menyebabkan kebakaran tidak terdeteksi. Karena itu, data satelit harus dipadukan dengan verifikasi lapangan sebelum digunakan untuk menentukan luasan dan tingkat kerusakan kebakaran. BMKG menjelaskan bahwa deteksi hotspot menggunakan sensor VIIRS dan MODIS memberikan indikasi lokasi wilayah yang mengalami anomali panas, tetapi memiliki keterbatasan ketika terdapat awan atau blank zone.

Gambut Menjadi Faktor Kunci

Secara ekologis, salah satu alasan Kalimantan Tengah sangat rentan terhadap karhutla adalah keberadaan kawasan gambut. Gambut memiliki kandungan bahan organik tinggi dan dapat menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika kondisi hidrologinya terganggu dan muka air tanah turun, lapisan gambut menjadi lebih kering dan mudah terbakar.

Berbeda dengan kebakaran vegetasi permukaan, kebakaran gambut dapat berlangsung secara membara di bawah permukaan. Api dapat bergerak secara perlahan melalui lapisan organik dan kembali muncul di lokasi yang tampaknya telah padam. Karena itu, hujan atau pemadaman permukaan belum tentu secara otomatis menghentikan seluruh proses pembakaran.

Penelitian yang diterbitkan Majalah Geografi Indonesia pada 2026 mengenai faktor meteorologi kebakaran di Pulau Kalimantan menemukan bahwa hotspot lebih terkonsentrasi pada lahan gambut dibandingkan non-gambut. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa kelembapan tanah merupakan faktor meteorologis yang paling signifikan, disusul curah hujan. Sebagian besar hotspot dalam periode penelitian terjadi ketika curah hujan kurang dari 100 mm per bulan, suhu lebih dari 25°C, dan kelembapan tanah berada pada kisaran 10–30 persen.

Temuan tersebut memberikan gambaran penting: persoalan karhutla tidak dapat hanya dilihat dari keberadaan api, tetapi harus dilihat dari kondisi ekosistem yang memungkinkan api muncul dan berkembang.

Kemarau dan El Niño Memperbesar Risiko

Faktor cuaca juga memainkan peranan penting. BMKG pada September 2026 menyatakan bahwa Indonesia masih menghadapi kondisi yang perlu diwaspadai akibat El Niño kategori sangat kuat, bersamaan dengan musim kemarau. Kondisi tersebut dapat menyebabkan atmosfer lebih kering, tutupan awan berkurang, suhu permukaan meningkat, dan periode tanpa hujan menjadi lebih panjang di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan bagian selatan.

Dalam kondisi seperti ini, vegetasi dan bahan organik di permukaan lahan kehilangan kadar air. Pada lahan gambut, persoalannya menjadi lebih kompleks karena penurunan muka air dapat membuat lapisan gambut semakin mudah terbakar.

Secara sederhana, risiko kebakaran dapat dipahami sebagai hasil interaksi antara bahan bakar, kondisi lingkungan, dan sumber penyalaan. Semakin kering bahan bakar, semakin rendah kelembapan tanah, dan semakin panjang periode tanpa hujan, semakin mudah api berkembang ketika terdapat sumber penyalaan.

Dampaknya Tidak Berhenti pada Lingkungan

Karhutla menghasilkan asap yang mengandung berbagai partikulat dan senyawa kimia, termasuk particulate matter berukuran 2,5 mikrometer (PM2.5). Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan dan berpotensi memberikan dampak terhadap kesehatan.

Penelitian mengenai kebakaran gambut di Kalimantan Tengah yang menganalisis periode 2011–2015 memperkirakan bahwa kebakaran gambut meningkatkan konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 sebesar sekitar 26 µg/m³. Penelitian tersebut mengaitkan paparan jangka panjang dengan peningkatan risiko penyakit yang berhubungan dengan polusi udara dan memperkirakan dampak terhadap kematian dini. Angka tersebut merupakan hasil pemodelan untuk periode penelitian dan tidak boleh dibaca sebagai angka kematian karhutla Kalimantan Tengah pada 2026.

Dampak lainnya meliputi terganggunya aktivitas masyarakat, berkurangnya jarak pandang, gangguan transportasi, tekanan terhadap flora dan fauna, serta hilangnya fungsi ekologis lahan.

Pemadaman Saja Tidak Cukup

Pemerintah telah melakukan berbagai pendekatan, mulai dari pemadaman darat, patroli udara, water bombing, pembasahan lahan hingga Operasi Modifikasi Cuaca. Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH pada September 2026 juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat untuk membantu meningkatkan pembasahan lahan, terutama pada kawasan gambut.

Di Kalimantan Tengah, penanganan juga melibatkan pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat dan relawan. Pemerintah provinsi melaporkan kesiapan sekitar 10.700 personel gabungan, termasuk lebih dari 5.300 relawan masyarakat.

Akan tetapi, secara ilmiah, pemadaman merupakan bagian dari respons darurat, bukan satu-satunya solusi jangka panjang.

Strategi yang lebih mendasar adalah mempertahankan kondisi hidrologis gambut, mencegah pengeringan berlebihan, memperkuat sistem peringatan dini, melakukan patroli pada wilayah rawan, mengembangkan desa bebas pembakaran, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta memastikan kegiatan pembukaan dan pengelolaan lahan mengikuti ketentuan yang berlaku.

Membangun Sistem Pencegahan Berbasis Data

Pengendalian karhutla ke depan perlu menggunakan pendekatan yang semakin terintegrasi. Data hotspot satelit perlu dipadukan dengan curah hujan, kelembapan tanah, tinggi muka air tanah, kondisi vegetasi, arah dan kecepatan angin, serta data kejadian kebakaran di lapangan.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah tidak hanya mengetahui di mana api berada, tetapi juga dapat memprediksi di mana risiko kebakaran sedang meningkat.

Inilah perubahan paradigma yang penting: dari fire fighting menuju fire prevention.

Kalimantan Tengah memiliki ekosistem hutan dan gambut yang mempunyai nilai ekologis penting. Karena itu, keberhasilan pengendalian karhutla tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga dari kemampuan menjaga agar kebakaran tidak berulang pada lokasi yang sama.

Karhutla pada akhirnya bukan hanya persoalan musim kemarau. Ia merupakan hasil interaksi antara kondisi iklim, hidrologi gambut, vegetasi, aktivitas manusia, dan tata kelola lahan. Semakin lengkap pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut, semakin besar peluang Kalimantan Tengah membangun sistem pencegahan kebakaran yang efektif, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih telah berkunjung dan mohon komentar yang membangun namun santun...